Berita Hawzah – Ayatullah Ja'far Subhani dalam acara pembukaan tahun ajaran baru Institut Imam Shadiq (as) yang diselenggarakan di aula pertemuan institut tersebut di Qom, dengan menyebut kedudukan ilmu, menyatakan: Allah SWT telah menetapkan derajat dan tingkatan khusus bagi orang-orang yang beriman dan berilmu, dan ilmu, dalam pandangan agama, menyebabkan keagungan dan keunggulan manusia.
Beliau menambahkan: Istilah ilmu itu luas, dan setiap ilmu yang benar-benar bermanfaat bagi manusia dapat termasuk dalam kerangka ini; kedokteran, kimia, fisika, botani, dan ilmu-ilmu lain yang melayani manusia serta menyelesaikan masalah-masalah manusia, memiliki nilai dan kedudukan.
Kehormatan setiap ilmu terletak pada kehormatan objeknya
Ayatullah Subhani dalam lanjutannya, dengan menekankan bahwa kredibilitas dan nilai setiap ilmu bergantung pada objeknya, menegaskan: Semakin objek suatu ilmu memiliki kehormatan dan kemuliaan yang lebih, maka ilmu itu pun akan memiliki derajat yang lebih tinggi. Seorang ahli kimia membahas tentang sifat-sifat zat, dan seorang ahli botani membahas tentang tumbuhan; namun sebagian ilmu tidak memiliki objek yang terbatas dan khusus, melainkan menjadikan seluruh keberadaan sebagai objek pembahasannya.
Ayatullah Subhani dengan menyatakan bahwa ilmu yang membahas tentang hakikat keberadaan dan eksistensi serta mengkaji keberadaan Wajib dan Mumkin (Istilah Filsafat), memiliki kehormatan yang lebih tinggi; karena objeknya jauh lebih luas, menambahkan: Ilmu kalam dan filsafat ketuhanan memiliki kedudukan khusus dalam hal ini; karena objek keduanya adalah pengenalan terhadap Allah, sifat-sifat Ilahi, keberadaan dan tingkatan-tingkatan eksistensi, serta masalah-masalah fundamental keyakinan.
Ilmu Kalam; Fikih Akbar
Marja' taklid ini dengan menyebut istilah "Fikih Akbar" tentang ilmu kalam menyatakan: Oleh karena itu, ilmu kalam disebut sebagai Fikih Akbar, karena ilmu ini pada hakikatnya merupakan fondasi bagi banyak ajaran agama. Sebagaimana bangunan tidak akan berdiri kokoh tanpa fondasi yang kuat, ajaran-ajaran agama pun memerlukan dasar-dasar keyakinan yang kokoh. Oleh karena itu, mereka yang sedang menempuh studi di bidang ini harus menghargai ilmu ini.
Ayatullah Subhani mengingatkan: Kalian para santri Hawzah, di samping membahas masalah-masalah kalam, juga mempelajari fikih, ushul, dan sastra yang masing-masing bernilai pada tempatnya, tetapi pada tahap ini di mana kalian sedang menekuni ilmu kalam, kalian berurusan dengan Fikih Akbar. Dengan demikian, kalian memiliki kehormatan dari dua sisi; baik kehormatan Fikih Ashghar maupun kehormatan Fikih Akbar. Kesibukan ilmiah semacam ini harus kalian anggap sangat serius.
Untuk memahami ajaran-ajaran Al-Qur'an, seseorang harus mempelajari dasar-dasar ilmu kalam dan filsafat
Beliau dengan menekankan pentingnya mempelajari ilmu kalam dan filsafat secara mendalam, menyatakan: Jika ilmu kalam, yang dalam mazhab Syiah juga terkait dengan pembahasan-pembahasan filosofis, tidak dipelajari dengan benar, dalam beberapa kasus memahami ajaran-ajaran Al-Qur'an juga akan menjadi sulit.
Ayatullah Subhani menambahkan: Dalam Al-Qur'an yang mulia terdapat ayat-ayat tentang kebersamaan dan kedekatan Allah dengan manusia, sementara dalam pembahasan akidah kita membuktikan bahwa Allah SWT bukanlah jasad dan tidak berada dalam ruang, arah, dan waktu.
Beliau melanjutkan: Muncul pertanyaan bagaimana konsep-konsep ini harus dipahami tentang Allah SWT. Jawaban yang tepat atas permasalahan ini dapat dikaji dalam pembahasan kalam dan filsafat. Oleh karena itu, jika seseorang ingin memahami ajaran-ajaran Al-Qur'an secara mendalam, ia harus mempelajari pembahasan kalam dan filsafat dengan benar.
Memerangi ateisme memerlukan ilmu kalam dan filsafat
Ayatullah Subhani dengan menekankan pentingnya memperkuat ilmu-ilmu akidah, menyatakan: Kita tidak boleh mengira bahwa serangan terhadap dasar-dasar akidah dan ketuhanan telah berakhir; syubhat-syubhat ini masih ada dan terkadang muncul kembali. Jika kita ingin menghadapi syubhat-syubhat ateistik dan akidah, salah satu kunci utamanya adalah ilmu kalam dan pembahasan filsafat ketuhanan ini.
Marja' taklid ini mengingatkan: Baik untuk memahami ajaran-ajaran Al-Qur'an dengan benar maupun untuk menjawab syubhat-syubhat akidah dan menghadapi ateisme secara ilmiah, kita harus mempelajari ilmu kalam dan pembahasan filsafat ketuhanan secara mendalam. Hargailah ilmu ini dan hormatilah para ustadz di bidang ini; hadirilah kelas-kelas dengan teratur, belajarlah dengan tekun, dan lanjutkanlah jalan ilmiah ini hingga tahap-tahap yang lebih tinggi.
Sirah Imam Shadiq (as) dalam Mendidik Kader-Kader Ilmiah untuk Membela Akidah
Beliau dengan menyebut sirah Imam Shadiq (as) dalam mendidik murid-murid yang ahli dalam pembahasan akidah, menyatakan: Imam Shadiq (as) untuk menghadapi arus-arus pemikiran dan akidah yang berbeda, telah mendidik murid-murid yang mampu membela dasar-dasar Islam. Dalam kitab mulia Al-Kafi disebutkan bahwa seseorang dari Mesir datang kepada Imam Shadiq (as) dan menyatakan bahwa ia ingin berdebat dengan murid-murid beliau. Imam pun berkata kepada salah satu sahabatnya agar mencari orang-orang yang mampu dalam pembahasan ilmiah untuk berbicara dan berdebat dengannya. Hisyam bin Hakam dan murid-murid Imam Shadiq (as) lainnya telah dididik di bidang ini dan dalam debat-debat ilmiah mereka membela dasar-dasar akidah Islam. Peristiwa ini terjadi pada periode yang merupakan masa sulit bagi Ahlulbait (as), namun Imam Shadiq (as) mementingkan untuk mendidik sebagian kader guna membela dasar-dasar Islam secara ilmiah.
Urgensi Mendidik Tenaga Ahli untuk Menjawab Syubhat
Ayatullah Subhani dengan menyebut sebagian syubhat historis tentang hubungan manusia dan Allah, menambahkan: Pada periode-periode yang berbeda, muncul pandangan-pandangan yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya dalam penciptaan membutuhkan Allah, tetapi setelah penciptaannya ia menganggap dirinya mandiri dalam berbuat. Dalam salah satu pembahasan ini, Imam Shadiq (as) dengan menggunakan argumen Al-Qur'an menjelaskan ketidakbenaran pandangan semacam itu.
Marja' taklid ini melanjutkan: Dalam ibadah dan doa, manusia senantiasa menyatakan kebutuhannya kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya, dan justru hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan manusia kepada Allah tidak terbatas hanya pada asal penciptaan. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa untuk membela dasar-dasar akidah, harus dididik orang-orang yang mampu menjawab syubhat dengan argumen dan logika.
Hari ini pun masih ada serangan-serangan pemikiran dan akidah
Ayatullah Subhani mengingatkan: Hari ini pun serangan terhadap dasar-dasar agama belum berakhir; baik dalam masalah kalam dan akidah terdapat syubhat, maupun terhadap hukum-hukum, adab, dan ajaran-ajaran agama diajukan pertanyaan dan syubhat.
Beliau menegaskan: Hawzah-hawzah ilmiyah harus masuk ke medan dengan berbagai spesialisasi ilmiah dan menjadi penjawab masalah-masalah ini. Tidak mungkin menghadapi syubhat-syubhat baru tanpa memiliki pengetahuan khusus dan argumen yang kuat.
Ilmu adalah sarana pembelaan agama, dan ulama adalah sumber kehormatan hawzah
Marja' taklid ini dengan menyebut sebuah riwayat dari Imam Hasan Askari (as) tentang kedudukan ulama, menyatakan: Dalam kitab "Al-Ihtijaj" karya almarhum Thabarsi disebutkan bahwa seseorang yang bukan dari keluarga dan kerabat dekat Imam Hasan Askari (as) hadir di hadapan beliau, dan Imam menyambutnya dengan penghormatan khusus. Sebagian kerabat beliau memprotes perilaku ini, tetapi Imam Askari (as) dalam jawabannya memperhatikan kedudukan ilmiah orang tersebut dan pembelaannya terhadap agama, serta mengingatkan nilai ilmunya. Riwayat ini menunjukkan betapa besar kedudukan dan nilai ilmu dan ulama yang membela agama.
Hawzah Ilmiyah Qom adalah warisan berharga untuk menjaga agama dan akhlak masyarakat
Beliau dalam bagian lain dari pidatonya dengan menyebut sejarah Hawzah Ilmiyah Qom menyatakan: Sejak berdirinya Hawzah Ilmiyah Qom telah berlalu sekitar 105 tahun, dan hawzah ini selama periode tersebut telah memberikan dampak dan berkah yang sangat banyak bagi masyarakat.
Ayatullah Subhani menambahkan: Semangat keagamaan dan keilmuan yang ada di Iran, sebagian besar berkat aktivitas Hawzah Ilmiyah Qom. Hawzah ini pada berbagai periode telah mendidik kelompok-kelompok ulama dan rohaniwan yang mampu menjaga dan memperkuat agama, akhlak, dan adab masyarakat. Kita harus menghargai Hawzah Ilmiyah Qom dan nilainya, serta dengan segenap kemampuan, menjadi orang yang gigih bekerja dan giat berfikir.
Jalanilah jalur ilmiah dengan serius
Marja' taklid ini di akhir berpesan kepada para santri hawzah dan peneliti Institut Imam Shadiq (as) agar menekuni jalur ilmiah dengan serius, hadir di kelas-kelas dengan teratur dan tekun, serta melanjutkan studi hingga tahap-tahap akhir; insya Allah usaha-usaha ini akan membuahkan hasil yang baik.
Komentar Anda